STROKE

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Penderita Stroke saat ini menjadi penghuni terbanyak di bangsal atau ruangan pada hampir semua pelayanan rawat inap penderita penyakit syaraf. Karena, selain menimbulkan beban ekonomi bagi penderita dan keluarganya, Stroke juga menjadi beban bagi pemerintah dan perusahaan asuransi kesehatan. Berbagai fakta menunjukkan bahwa sampai saat ini, Stroke masih merupakan masalah utama di bidang neurologi maupun kesehatan pada umumnya. Untuk mengatasi masalah krusial ini diperlukan strategi penangulangan Stroke yang mencakup aspek preventif, terapi rehabilitasi, dan promotif.

Keberadaan unit Stroke di rumah sakit tak lagi sekadar pelengkap, tetapi sudah menjadi keharusan, terlebih bila melihat angka penderita Stroke yang terus meningkat dari tahun ke tahun di Indonesia. Karena penanganan Stroke yang cepat, tepat dan akurat akan meminimalkan kecacatan yang ditimbulkan. Untuk itulah penulis menyusun makalah mengenai Stroke yang menunjukan masih menjadi salah satu pemicu kematian tertinggi di Indonesia.

Stroke ditemukan pada semua golongan usia, namun sebagian besar akan dijumpai pada usia di atas 55 tahun. Ditemukan kesan bahwa insiden stroke meningkat secara eksponensial dengan bertambahnya usia, dimana akan terjadi peningkatan 100 kali lipat pada mereka yang berusia 80 – 90 tahun. Insiden usia 80 – 90 adalah 300/10000 dibandingkan dengan 3/10000 pada golongan usia 30 – 40 tahun. Stroke banyak ditemukan pada pria dibandingkan pada wanita. Variasi gender ini bertahan tanpa pengaruh umur. Insiden stroke bervariasi antar Negara dan tempat. Menurut hasil penelitian yang dikoordinasi oleh WHO, dari 16 pusat riset di 12 negara maju dan berkembang antara Mei 1971 sampai dengan Desember 1974 memperlihatkan bahwa insiden stroke adalah di Ahita (Jepang) yaitu 287/100000 populasi per tahun, sedangkan yang terendah adalah di Ibadan (Nigeria) sebesar 150/100000 per tahun.

Di Indonesia, walaupun belum ada penelitian epidemiologi yang sempurna dari hasil survey kesehatan rumah tangga tahun 1984 dilaporkan prevalensi stroke pada golongan umur 25 – 34 tahun, 35 – 44 tahun, dan pada kelompok umur 55 tahun ke atas, berturut – turut 6.7; 24.4; dan 276.3/100000 penduduk sedangkan proporsi stroke di rumah sakit di 27 propinsi pada tahun 1984 dan tahun 1985 berturut – turut  meningkat dari 0.72 menjadi 0.83 dan pada tahun 1986 meningkat 0.96/100 penderita. Masih dari hasil survei kesehtan rumah tangga

1.2  Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian dari stroke?
  2. Apa itu beban stroke?
  3. Apa saja batasan dan klasifikasi stroke?
  4. Apa saja faktor resiko stroke?
  5. Bagaimana patofisiologi stroke?
  6. Apa saja tanda dan gejala klinis stroke?
  7. Apa saja upaya pencegahan stroke?
  8. Bagaimana pengobatan stroke?

1.3    Tujuan

  1. Untuk mengetahui pengertian dari stroke
  2. Untuk mengetahui beban stroke
  3. Untuk mengetahui batasan dan klasifikasi stroke
  4. Untuk mengetahui faktor resiko stroke
  5. Untuk mengetahui patofisiologi atau mekanisme stroke
  6. Untuk mengetahui tanda dan gejala klinis stroke
  1. Untuk mengetahui upaya pencegahan stroke
  2. Untuk mengetahui pengobatan stroke

1.4    Manfaat

  1. Agar mengetahui pengertian dari stroke
  2. Agar mengetahui beban stroke
  3. Agar mengetahui batasan dan klasifikasi stroke
  4. Agar mengetahui faktor resiko stroke
  5. Agar mengetahui patofisiologi atau mekanisme stroke
  6. Agar mengetahui tanda dan gejala klinis stroke
  7. Agar mengetahui upaya pencegahan stroke
  8. Agar mengetahui pengobatan stroke

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1    Pengertian

WHO mendefinisikan bahwa Stroke adalah gejala – gejala defisit fungsi susunan saraf yang diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah otak dan bukan oleh yang lain dari itu.

Menurut sumber Wikipedia, Stroke adalah suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tiba – tiba terganggu. Dalam jaringan otak, kurangnya aliran darah menyebabkan serangkaian reaksi bio – kimia yang dapat merusakkan atau mematikan sel – sel otak. Kematian jaringan otak dapat menyebabkan hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh jaringan itu.

Menurut Iskandar Junaidi stroke adalah penyakit gangguan fungsional otak berupa defisit neurologik akibat gangguan aliran darah pada salah satu bagian otak. Secara sederhana Stroke didefinisikan sebagai penyakit otak akibat terhentinya suplai darah ke otak karena sumbatan atau perdarahan dengan gejala lemas/lumpuh sesaat atau gejala berat sampai hilangnya kesadaran, dan kematian.

Sumber lain menyebutkan bahwa Stroke termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Berkurangnya aliran darah dan oksigen ini bisa dikarenakan adanya sumbatan, penyempitan atau pecahnya pembuluh darah.

2.2    Beban Stroke

Stroke merupakan salah satu masalah kesehatan yang serius karena ditandai dengan tingginya morbiditas dan mortalitasnya. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa peningkatan proporsi penderita stroke di rumah sakit, yakni 0,72/100 penderita pada tahun 1984 menjadi 0,95/100 penderita ditahun 1986.

Stroke menempati urutan ketiga dalam urutan penyebab kematian. Di negara yang sedang berkembang, selain jumlahnya yang banyak, angka kematiannya masih cukup tinggi. Stroke merupakan penyakit neorologis yang banyak dijumpai. Disamping itu, stroke merupakan penyakit yang mengenai sistem saraf, memberikan cacat tubuh yang berlangsung kronis dan dapat terjadi tidak saja pada orang – orang berusia lanjut, tetapi juga pada orang – orang usia pertengahan (40-50 Tahun), yang mana pada usia inilah orang berada dalam keadaan aktif dan produktif.

Serangan stroke bersifat akut dan menyebabkan kematian mendadak. Angka kematian dapat mencapai 36%. Namun sampai dewasa ini belumlah jelas penyebabnya. Secara patofisologi dikatakan bahwa stroke berkaitan dengan gangguan aliran darah ke otak.

2.3    Batasan dan klasifikasi stroke

Stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu Stroke iskemik maupun Stroke hemorragik. Pada Stroke iskemik, aliran darah ke otak terhenti karena aterosklerosis (penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah) atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh darah ke otak. Hampir sebagian besar pasien atau sebesar 83% mengalami stroke jenis ini. Pada Stroke iskemik, penyumbatan bisa terjadi di sepanjang jalur pembuluh darah arteri yang menuju ke otak. Darah ke otak disuplai oleh dua arteria karotis interna dan dua arteri vertebralis. Arteri-arteri ini merupakan cabang dari lengkung aorta jantung. Stroke Iskemik terbagi lagi menjadi 3 yaitu:

1.    Stroke Trombotik adalah proses terbentuknya thrombus yang membuat penggumpalan.

2.    Stroke Embolik adalah tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan darah.

3.    Hipoperfusion Sistemik adalah berkurangnya aliran darah ke seluruh bagian tubuh karena adanya gangguan denyut jantung.

Pada Stroke hemorragik, pembuluh darah pecah sehingga menghambat aliran darah yang normal dan darah merembes ke dalam suatu daerah di otak dan merusaknya.

2.4     Faktor Resiko Stroke

Penyakit atau keadaan yang menyebabkan stroke disebut dengan faktor risiko stroke. Faktor risiko medis penyakit tersebut di atas antara lain disebabkan oleh:

  1. Hipertensi,
  2. Penyakit Jantung,
  3. Diabetes Mellitus,
  4. Hiperlipidemia (peninggian kadar lipid dalam darah),
  5. Atherosklerosis (pengerasan pembuluh darah),
  6. Riwayat Stroke dalam keluarga,
  7. Migrain

Faktor resiko perilaku, antara lain:

  1. Usia lanjut,
  2. Obesitas,
  3. Merokok (pasif/aktif),
  4. Alkohol,
  5. Narkoba,
  6. Kontrasepsi oral,
  7. Jenis kelamin (pria),
  8. Makanan tidak sehat (junk food, fast food),
  9. Kurang olah raga.

2.5     Mekanisme kausal terjadinya stroke

Mekanisme kausal terjadinya penyakit yaitu dari suatu ateroma (endapan lemak) bisa terbentuk di dalam pembuluh darah arteri karotis sehingga menyebabkan berkurangnya aliran darah. Keadaan ini sangat serius karena setiap pembuluh darah arteri karotis dalam keadaan normal memberikan darah ke sebagian besar otak. Endapan lemak juga bisa terlepas dari dinding arteri dan mengalir di dalam darah, kemudian menyumbat arteri yang lebih kecil.

Pembuluh darah arteri karotis dan arteri vertebralis beserta percabangannya bisa juga tersumbat karena adanya bekuan darah yang berasal dari tempat lain, misalnya dari jantung atau satu katupnya. Stroke semacam ini disebut emboli serebral (emboli = sumbatan, serebral = pembuluh darah otak) yang paling sering terjadi pada penderita yang baru menjalani pembedahan jantung dan penderita kelainan katup jantung atau gangguan irama jantung (terutama fibrilasi atrium).

Emboli lemak jarang menyebabkan stroke. Emboli lemak terbentuk jika lemak dari sumsum tulang yang pecah dilepaskan ke dalam aliran darah dan akhirnya bergabung di dalam sebuah arteri. Stroke juga bisa terjadi bila suatu peradangan atau infeksi menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang menuju ke otak. Obat – obatan (misalnya kokain dan amfetamin) juga bisa mempersempit pembuluh darah di otak dan menyebabkan Stroke.

Penurunan tekanan darah yang tiba – tiba bisa menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otak yang biasanya menyebabkan seseorang pingsan. Stroke bisa terjadi jika tekanan darah rendahnya sangat berat dan menahun. Hal ini terjadi jika seseorang mengalami kehilangan darah yang banyak karena cedera atau pembedahan, serangan jantung atau irama jantung yang abnormal.

2.6  Tanda dan Gejala Klinis

Berdasarkan lokasinya di tubuh, gejala – gejala stroke terbagi menjadi berikut:

1.      Bagian sistem saraf pusat : Kelemahan otot (hemiplegia), kaku, menurunnya fungsi sensorik

2.      Batang otak, dimana terdapat 12 saraf kranial: menurun kemampuan membau, mengecap, mendengar, dan melihat parsial atau keseluruhan, refleks menurun, ekspresi wajah terganggu, pernafasan dan detak jantung terganggu, lidah lemah.

3.      Cerebral cortex: daya ingat menurun, kebingungan.

Jika tanda – tanda dan gejala tersebut hilang dalam waktu 24 jam dinyatakan sebagai Transient Ischemic Attack (TIA), dimana merupakan serangan kecil atau serangan awal stroke. Pada sumber lain tanda dan gejala Stroke yaitu:

  • Adanya  serangan defisit neurologis fokal, berupa kelemahan atau kelumpuhan lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh
  • Hilangnya rasa atau adanya sensasi abnormal pada lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh. Baal atau mati rasa sebelah badan terasa kesemutan, terasa seperti terkena cabai, dan rasa terbakar
  • Mulut, lidah mencong bila diluruskan
  • Gangguan menelan : sulit  menelan, minum suka keselek
  • Bicara tidak jelas, sulit berbahasa, kata yang diucapkan tidak sesuai keinginan atau gangguan bicara berupa pelo, sengau, ngaco, dan kata – katanya tidak dapat dimengerti atau tidak dipahami  (afasia). Bicara tidak lancar, hanya sepatah – sepatah kata yang  terucap
  • Sulit memikirkan atau mengucapkan kata – kata yang tepat
  • Tidak  memahami  pembicaraan  orang lain
  • Tidak  mampu  membaca  dan menulis, dan tidak memahami tulisan
  • Tidak dapat berhitung, kepandaian menurun
  • Tidak mampu mengenali bagian dari tubuh
  • Hilangnya kendalian terhadap kandung kemih, kencing yang tidak disadari
  • Menjadi pelupa ( dimensia)
  • Vertigo ( pusing, puyeng ) atau perasan berputar yang menetap saat tidak beraktifitas
  • Awal  terjadinya  penyakit  (Onset) cepat, mendadak dan biasanya terjadi pada  saat  beristirahat atau bangun  tidur
  • Hilangnya penglihatan, berupa penglihatan terganggu, sebagian lapang pandangan tidak terlihat, gangguan pandangan tanpa rasa nyeri, penglihatan gelap atau ganda sesaat kelopak  mata sulit  dibuka  atau  dalam keadaan terjatuh
  • Pendengaran hilang atau gangguan pendengaran, berupa tuli satu telinga atau  pendengaran  berkurang
  • Kebanyakan tidur atau selalu ingin tidur
  • Kehilangan keseimbangan, gerakan tubuh tidak terkoordinasi dengan baik, sempoyongan, atau terjatuh
  • Gangguan kesadaran, pingsan sampai tidak sadarkan diri

2.7    Upaya pencegahan stroke

Stroke dapat dicegah karena ancaman stroke dapat merenggut nyawa. Hidup bebas tanpa stroke merupakan dambaan bagi semua orang. Tak heran semua orang selalu berupaya untuk mencegah stroke atau mengurangi faktor risiko. Adapun tips untuk mencegah stroke, sebagai berikut:

  • Periksa tekanan darah

Stroke lebih sering terjadi pada orang dengan tekanan darah tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa mengendalikan tekanan darah tinggi dapat memangkas risiko stroke hingga 40 persen. Stroke terjadi bila pembuluh darah otak pecah atau adanya pecahan plak aterosklerosis yang lepas dan menyumbat aliran darah ke sebagai otak.

  • Kurangi berat badan

Jika berat badan naik, maka yang bertambah paling banyak adalah jaringan lemak. Kelebihan lemak juga dihubungkan dengan meningkatnya kolesterol jahat dan trigliserida. Dengan berjalannya waktu, perubahan lemak darah ini ikut berperan dalam pembentukan timbunan lemak (plak) pada arteri, kondisi yang dikenal sebagai aterosklerosis. Penurunan berat badan sekecil apa pun pasti bermanfaat pada kesehatan.

  • Hindari stress

Kebahagiaan laksana musik untuk sistem kardiovaskular. Para peneliti dari University of Texas Medical Branch, Amerika Serikat menyebutkan bahwa di antara orang lanjut usia, mereka yang mempunyai mood positif dan bahagia lebih jarang terkena stroke. Para peneliti mengatakan, orang yang bahagia pada umumnya mempunyai semangat berolahraga dan pola hidup sehat. Kombinasi yang menjauhkan kita dari risiko stroke.

Jika Anda berhenti merokok, risiko terkena serangan jantung dan stroke berkurang hingga setengahnya. Namun, jangan mengurangi rokok. Merokok banyak atau sedikit pada dasarnya sama saja. Anda harus menghentikannya sama sekali.

  • Olahraga

Tubuh kurang gerak menambah faktor risiko untuk menderita stroke. Penelitian menunjukkan orang yang mulai berolahraga secara teratur antara usia 15 – 25 tahun mempunyai risiko yang lebih kecil untuk menderita stroke dibanding mereka yang tidak berolahraga.

  • Perbanyak serat

Batasi asupan semua jenis lemak, termasuk daging merah dan makanan yang digoreng, dan ganti dengan serat yang larut yang dapat menurunkan kadar kolesterol total. Makanan yang mengandung serat larut, antara lain oatmeal, kacang-kacangan, golongan jeruk, stroberi, dan apel.

2.8  Pengobatan

Diperkirakan ada 500.000 penduduk yang terkena stroke. Dari jumlah tersebut:

  • 1/3 –> bisa pulih kembali,
  • 1/3 –> mengalami gangguan fungsional ringan sampai sedang,
    • 1/3 sisanya –> mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan penderita terus menerus di kasur.

Hanya 10 – 15 % penderita stroke bisa kembali hidup normal seperti sedia kala, sisanya mengalami cacat, sehingga banyak penderita stroke menderita stress akibat kecacatan yang ditimbulkan setelah diserang stroke. Jika mengalami serangan stroke segera lakukan pemeriksaan untuk menentukan apakah penyebabnya bekuan darah atau perdarahan yang tidak bisa diatasi dengan obat penghancur bekuan darah.

Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kelumpuhan dan gejala lainnya bisa dicegah atau dipulihkan jika recombinant tissue plasminogen activator (RTPA) atau streptokinase yang berfungsi menghancurkan bekuan darah diberikan dalam waktu 3 jam setelah timbulnya stroke.

Antikoagulan juga biasanya tidak diberikan kepada penderita tekanan darah tinggi dan tidak pernah diberikan kepada penderita dengan perdarahan otak karena akan menambah risiko terjadinya perdarahan ke dalam otak. Penderita stroke biasanya diberikan oksigen dan dipasang infus untuk memasukkan cairan dan zat makanan. Pada stroke in evolution diberikan antikoagulan (misalnya heparin), tetapi obat ini tidak diberikan jika telah terjadi completed stroke.

Pada completed stroke, beberapa jaringan otak telah mati. Memperbaiki aliran darah ke daerah tersebut tidak akan dapat mengembalikan fungsinya. Karena itu biasanya tidak dilakukan pembedahan. Pengangkatan sumbatan pembuluh darah yang dilakukan setelah stroke ringan atau transient ischemic attack ternyata bisa mengurangi risiko terjadinya stroke di masa yang akan datang. Sekitar 24,5% pasien mengalami stroke berulang. Untuk mengurangi pembengkakan dan tekanan di dalam otak pada penderita stroke akut, biasanya diberikan manitol atau kortikosteroid. Penderita stroke yang sangat berat mungkin memerlukan respirator (alat bantu bernapas) untuk mempertahankan pernafasan yang adekuat.

Di samping itu, perlu perhatian khusus kepada fungsi kandung kemih, saluran pencernaan dan kulit (untuk mencegah timbulnya luka di kulit karena penekanan). Stroke biasanya tidak berdiri sendiri, sehingga bila ada kelainan fisiologis yang menyertai harus diobati misalnya gagal jantung, irama jantung yang tidak teratur, tekanan darah tinggi dan infeksi paru – paru. Setelah serangan stroke, biasanya terjadi perubahan suasana hati (terutama depresi), yang bisa diatasi dengan obat – obatan atau terapi psikis.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Stroke adalah suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tiba-tiba terganggu. Dalam jaringan otak, kurangnya aliran darah menyebabkan serangkaian reaksi biokimia, yang dapat merusakkan atau mematikan sel-sel saraf di otak. Kematian jaringan otak dapat menyebabkan hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh jaringan itu. Stroke juga dapat mengancam setiap kehidupan manusia apabila tidak dapat mencegah dan menjaga pola hidup dengan baik.

3.2 Saran

Setiap orang memiliki kemungkinan besar untuk terkena penyakit stroke. Agar tidak terkena penyakit stroke, sebaiknya kita dapat mencegah penyakit stroke dengan melaksanakan beberapa tips yang telah disebutkan di atas.

 

 

About Arelin Fafa

I'm 21 years old, Indonesian. I'm Christ follower. A girl who love music, Photography, and every beatiful things which have made by God
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s