STROKE

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Penderita Stroke saat ini menjadi penghuni terbanyak di bangsal atau ruangan pada hampir semua pelayanan rawat inap penderita penyakit syaraf. Karena, selain menimbulkan beban ekonomi bagi penderita dan keluarganya, Stroke juga menjadi beban bagi pemerintah dan perusahaan asuransi kesehatan. Berbagai fakta menunjukkan bahwa sampai saat ini, Stroke masih merupakan masalah utama di bidang neurologi maupun kesehatan pada umumnya. Untuk mengatasi masalah krusial ini diperlukan strategi penangulangan Stroke yang mencakup aspek preventif, terapi rehabilitasi, dan promotif.

Keberadaan unit Stroke di rumah sakit tak lagi sekadar pelengkap, tetapi sudah menjadi keharusan, terlebih bila melihat angka penderita Stroke yang terus meningkat dari tahun ke tahun di Indonesia. Karena penanganan Stroke yang cepat, tepat dan akurat akan meminimalkan kecacatan yang ditimbulkan. Untuk itulah penulis menyusun makalah mengenai Stroke yang menunjukan masih menjadi salah satu pemicu kematian tertinggi di Indonesia.

Stroke ditemukan pada semua golongan usia, namun sebagian besar akan dijumpai pada usia di atas 55 tahun. Ditemukan kesan bahwa insiden stroke meningkat secara eksponensial dengan bertambahnya usia, dimana akan terjadi peningkatan 100 kali lipat pada mereka yang berusia 80 – 90 tahun. Insiden usia 80 – 90 adalah 300/10000 dibandingkan dengan 3/10000 pada golongan usia 30 – 40 tahun. Stroke banyak ditemukan pada pria dibandingkan pada wanita. Variasi gender ini bertahan tanpa pengaruh umur. Insiden stroke bervariasi antar Negara dan tempat. Menurut hasil penelitian yang dikoordinasi oleh WHO, dari 16 pusat riset di 12 negara maju dan berkembang antara Mei 1971 sampai dengan Desember 1974 memperlihatkan bahwa insiden stroke adalah di Ahita (Jepang) yaitu 287/100000 populasi per tahun, sedangkan yang terendah adalah di Ibadan (Nigeria) sebesar 150/100000 per tahun.

Di Indonesia, walaupun belum ada penelitian epidemiologi yang sempurna dari hasil survey kesehatan rumah tangga tahun 1984 dilaporkan prevalensi stroke pada golongan umur 25 – 34 tahun, 35 – 44 tahun, dan pada kelompok umur 55 tahun ke atas, berturut – turut 6.7; 24.4; dan 276.3/100000 penduduk sedangkan proporsi stroke di rumah sakit di 27 propinsi pada tahun 1984 dan tahun 1985 berturut – turut  meningkat dari 0.72 menjadi 0.83 dan pada tahun 1986 meningkat 0.96/100 penderita. Masih dari hasil survei kesehtan rumah tangga

1.2  Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian dari stroke?
  2. Apa itu beban stroke?
  3. Apa saja batasan dan klasifikasi stroke?
  4. Apa saja faktor resiko stroke?
  5. Bagaimana patofisiologi stroke?
  6. Apa saja tanda dan gejala klinis stroke?
  7. Apa saja upaya pencegahan stroke?
  8. Bagaimana pengobatan stroke?

1.3    Tujuan

  1. Untuk mengetahui pengertian dari stroke
  2. Untuk mengetahui beban stroke
  3. Untuk mengetahui batasan dan klasifikasi stroke
  4. Untuk mengetahui faktor resiko stroke
  5. Untuk mengetahui patofisiologi atau mekanisme stroke
  6. Untuk mengetahui tanda dan gejala klinis stroke
  1. Untuk mengetahui upaya pencegahan stroke
  2. Untuk mengetahui pengobatan stroke

1.4    Manfaat

  1. Agar mengetahui pengertian dari stroke
  2. Agar mengetahui beban stroke
  3. Agar mengetahui batasan dan klasifikasi stroke
  4. Agar mengetahui faktor resiko stroke
  5. Agar mengetahui patofisiologi atau mekanisme stroke
  6. Agar mengetahui tanda dan gejala klinis stroke
  7. Agar mengetahui upaya pencegahan stroke
  8. Agar mengetahui pengobatan stroke

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1    Pengertian

WHO mendefinisikan bahwa Stroke adalah gejala – gejala defisit fungsi susunan saraf yang diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah otak dan bukan oleh yang lain dari itu.

Menurut sumber Wikipedia, Stroke adalah suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tiba – tiba terganggu. Dalam jaringan otak, kurangnya aliran darah menyebabkan serangkaian reaksi bio – kimia yang dapat merusakkan atau mematikan sel – sel otak. Kematian jaringan otak dapat menyebabkan hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh jaringan itu.

Menurut Iskandar Junaidi stroke adalah penyakit gangguan fungsional otak berupa defisit neurologik akibat gangguan aliran darah pada salah satu bagian otak. Secara sederhana Stroke didefinisikan sebagai penyakit otak akibat terhentinya suplai darah ke otak karena sumbatan atau perdarahan dengan gejala lemas/lumpuh sesaat atau gejala berat sampai hilangnya kesadaran, dan kematian.

Sumber lain menyebutkan bahwa Stroke termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Berkurangnya aliran darah dan oksigen ini bisa dikarenakan adanya sumbatan, penyempitan atau pecahnya pembuluh darah.

2.2    Beban Stroke

Stroke merupakan salah satu masalah kesehatan yang serius karena ditandai dengan tingginya morbiditas dan mortalitasnya. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa peningkatan proporsi penderita stroke di rumah sakit, yakni 0,72/100 penderita pada tahun 1984 menjadi 0,95/100 penderita ditahun 1986.

Stroke menempati urutan ketiga dalam urutan penyebab kematian. Di negara yang sedang berkembang, selain jumlahnya yang banyak, angka kematiannya masih cukup tinggi. Stroke merupakan penyakit neorologis yang banyak dijumpai. Disamping itu, stroke merupakan penyakit yang mengenai sistem saraf, memberikan cacat tubuh yang berlangsung kronis dan dapat terjadi tidak saja pada orang – orang berusia lanjut, tetapi juga pada orang – orang usia pertengahan (40-50 Tahun), yang mana pada usia inilah orang berada dalam keadaan aktif dan produktif.

Serangan stroke bersifat akut dan menyebabkan kematian mendadak. Angka kematian dapat mencapai 36%. Namun sampai dewasa ini belumlah jelas penyebabnya. Secara patofisologi dikatakan bahwa stroke berkaitan dengan gangguan aliran darah ke otak.

2.3    Batasan dan klasifikasi stroke

Stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu Stroke iskemik maupun Stroke hemorragik. Pada Stroke iskemik, aliran darah ke otak terhenti karena aterosklerosis (penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah) atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh darah ke otak. Hampir sebagian besar pasien atau sebesar 83% mengalami stroke jenis ini. Pada Stroke iskemik, penyumbatan bisa terjadi di sepanjang jalur pembuluh darah arteri yang menuju ke otak. Darah ke otak disuplai oleh dua arteria karotis interna dan dua arteri vertebralis. Arteri-arteri ini merupakan cabang dari lengkung aorta jantung. Stroke Iskemik terbagi lagi menjadi 3 yaitu:

1.    Stroke Trombotik adalah proses terbentuknya thrombus yang membuat penggumpalan.

2.    Stroke Embolik adalah tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan darah.

3.    Hipoperfusion Sistemik adalah berkurangnya aliran darah ke seluruh bagian tubuh karena adanya gangguan denyut jantung.

Pada Stroke hemorragik, pembuluh darah pecah sehingga menghambat aliran darah yang normal dan darah merembes ke dalam suatu daerah di otak dan merusaknya.

2.4     Faktor Resiko Stroke

Penyakit atau keadaan yang menyebabkan stroke disebut dengan faktor risiko stroke. Faktor risiko medis penyakit tersebut di atas antara lain disebabkan oleh:

  1. Hipertensi,
  2. Penyakit Jantung,
  3. Diabetes Mellitus,
  4. Hiperlipidemia (peninggian kadar lipid dalam darah),
  5. Atherosklerosis (pengerasan pembuluh darah),
  6. Riwayat Stroke dalam keluarga,
  7. Migrain

Faktor resiko perilaku, antara lain:

  1. Usia lanjut,
  2. Obesitas,
  3. Merokok (pasif/aktif),
  4. Alkohol,
  5. Narkoba,
  6. Kontrasepsi oral,
  7. Jenis kelamin (pria),
  8. Makanan tidak sehat (junk food, fast food),
  9. Kurang olah raga.

2.5     Mekanisme kausal terjadinya stroke

Mekanisme kausal terjadinya penyakit yaitu dari suatu ateroma (endapan lemak) bisa terbentuk di dalam pembuluh darah arteri karotis sehingga menyebabkan berkurangnya aliran darah. Keadaan ini sangat serius karena setiap pembuluh darah arteri karotis dalam keadaan normal memberikan darah ke sebagian besar otak. Endapan lemak juga bisa terlepas dari dinding arteri dan mengalir di dalam darah, kemudian menyumbat arteri yang lebih kecil.

Pembuluh darah arteri karotis dan arteri vertebralis beserta percabangannya bisa juga tersumbat karena adanya bekuan darah yang berasal dari tempat lain, misalnya dari jantung atau satu katupnya. Stroke semacam ini disebut emboli serebral (emboli = sumbatan, serebral = pembuluh darah otak) yang paling sering terjadi pada penderita yang baru menjalani pembedahan jantung dan penderita kelainan katup jantung atau gangguan irama jantung (terutama fibrilasi atrium).

Emboli lemak jarang menyebabkan stroke. Emboli lemak terbentuk jika lemak dari sumsum tulang yang pecah dilepaskan ke dalam aliran darah dan akhirnya bergabung di dalam sebuah arteri. Stroke juga bisa terjadi bila suatu peradangan atau infeksi menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang menuju ke otak. Obat – obatan (misalnya kokain dan amfetamin) juga bisa mempersempit pembuluh darah di otak dan menyebabkan Stroke.

Penurunan tekanan darah yang tiba – tiba bisa menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otak yang biasanya menyebabkan seseorang pingsan. Stroke bisa terjadi jika tekanan darah rendahnya sangat berat dan menahun. Hal ini terjadi jika seseorang mengalami kehilangan darah yang banyak karena cedera atau pembedahan, serangan jantung atau irama jantung yang abnormal.

2.6  Tanda dan Gejala Klinis

Berdasarkan lokasinya di tubuh, gejala – gejala stroke terbagi menjadi berikut:

1.      Bagian sistem saraf pusat : Kelemahan otot (hemiplegia), kaku, menurunnya fungsi sensorik

2.      Batang otak, dimana terdapat 12 saraf kranial: menurun kemampuan membau, mengecap, mendengar, dan melihat parsial atau keseluruhan, refleks menurun, ekspresi wajah terganggu, pernafasan dan detak jantung terganggu, lidah lemah.

3.      Cerebral cortex: daya ingat menurun, kebingungan.

Jika tanda – tanda dan gejala tersebut hilang dalam waktu 24 jam dinyatakan sebagai Transient Ischemic Attack (TIA), dimana merupakan serangan kecil atau serangan awal stroke. Pada sumber lain tanda dan gejala Stroke yaitu:

  • Adanya  serangan defisit neurologis fokal, berupa kelemahan atau kelumpuhan lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh
  • Hilangnya rasa atau adanya sensasi abnormal pada lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh. Baal atau mati rasa sebelah badan terasa kesemutan, terasa seperti terkena cabai, dan rasa terbakar
  • Mulut, lidah mencong bila diluruskan
  • Gangguan menelan : sulit  menelan, minum suka keselek
  • Bicara tidak jelas, sulit berbahasa, kata yang diucapkan tidak sesuai keinginan atau gangguan bicara berupa pelo, sengau, ngaco, dan kata – katanya tidak dapat dimengerti atau tidak dipahami  (afasia). Bicara tidak lancar, hanya sepatah – sepatah kata yang  terucap
  • Sulit memikirkan atau mengucapkan kata – kata yang tepat
  • Tidak  memahami  pembicaraan  orang lain
  • Tidak  mampu  membaca  dan menulis, dan tidak memahami tulisan
  • Tidak dapat berhitung, kepandaian menurun
  • Tidak mampu mengenali bagian dari tubuh
  • Hilangnya kendalian terhadap kandung kemih, kencing yang tidak disadari
  • Menjadi pelupa ( dimensia)
  • Vertigo ( pusing, puyeng ) atau perasan berputar yang menetap saat tidak beraktifitas
  • Awal  terjadinya  penyakit  (Onset) cepat, mendadak dan biasanya terjadi pada  saat  beristirahat atau bangun  tidur
  • Hilangnya penglihatan, berupa penglihatan terganggu, sebagian lapang pandangan tidak terlihat, gangguan pandangan tanpa rasa nyeri, penglihatan gelap atau ganda sesaat kelopak  mata sulit  dibuka  atau  dalam keadaan terjatuh
  • Pendengaran hilang atau gangguan pendengaran, berupa tuli satu telinga atau  pendengaran  berkurang
  • Kebanyakan tidur atau selalu ingin tidur
  • Kehilangan keseimbangan, gerakan tubuh tidak terkoordinasi dengan baik, sempoyongan, atau terjatuh
  • Gangguan kesadaran, pingsan sampai tidak sadarkan diri

2.7    Upaya pencegahan stroke

Stroke dapat dicegah karena ancaman stroke dapat merenggut nyawa. Hidup bebas tanpa stroke merupakan dambaan bagi semua orang. Tak heran semua orang selalu berupaya untuk mencegah stroke atau mengurangi faktor risiko. Adapun tips untuk mencegah stroke, sebagai berikut:

  • Periksa tekanan darah

Stroke lebih sering terjadi pada orang dengan tekanan darah tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa mengendalikan tekanan darah tinggi dapat memangkas risiko stroke hingga 40 persen. Stroke terjadi bila pembuluh darah otak pecah atau adanya pecahan plak aterosklerosis yang lepas dan menyumbat aliran darah ke sebagai otak.

  • Kurangi berat badan

Jika berat badan naik, maka yang bertambah paling banyak adalah jaringan lemak. Kelebihan lemak juga dihubungkan dengan meningkatnya kolesterol jahat dan trigliserida. Dengan berjalannya waktu, perubahan lemak darah ini ikut berperan dalam pembentukan timbunan lemak (plak) pada arteri, kondisi yang dikenal sebagai aterosklerosis. Penurunan berat badan sekecil apa pun pasti bermanfaat pada kesehatan.

  • Hindari stress

Kebahagiaan laksana musik untuk sistem kardiovaskular. Para peneliti dari University of Texas Medical Branch, Amerika Serikat menyebutkan bahwa di antara orang lanjut usia, mereka yang mempunyai mood positif dan bahagia lebih jarang terkena stroke. Para peneliti mengatakan, orang yang bahagia pada umumnya mempunyai semangat berolahraga dan pola hidup sehat. Kombinasi yang menjauhkan kita dari risiko stroke.

Jika Anda berhenti merokok, risiko terkena serangan jantung dan stroke berkurang hingga setengahnya. Namun, jangan mengurangi rokok. Merokok banyak atau sedikit pada dasarnya sama saja. Anda harus menghentikannya sama sekali.

  • Olahraga

Tubuh kurang gerak menambah faktor risiko untuk menderita stroke. Penelitian menunjukkan orang yang mulai berolahraga secara teratur antara usia 15 – 25 tahun mempunyai risiko yang lebih kecil untuk menderita stroke dibanding mereka yang tidak berolahraga.

  • Perbanyak serat

Batasi asupan semua jenis lemak, termasuk daging merah dan makanan yang digoreng, dan ganti dengan serat yang larut yang dapat menurunkan kadar kolesterol total. Makanan yang mengandung serat larut, antara lain oatmeal, kacang-kacangan, golongan jeruk, stroberi, dan apel.

2.8  Pengobatan

Diperkirakan ada 500.000 penduduk yang terkena stroke. Dari jumlah tersebut:

  • 1/3 –> bisa pulih kembali,
  • 1/3 –> mengalami gangguan fungsional ringan sampai sedang,
    • 1/3 sisanya –> mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan penderita terus menerus di kasur.

Hanya 10 – 15 % penderita stroke bisa kembali hidup normal seperti sedia kala, sisanya mengalami cacat, sehingga banyak penderita stroke menderita stress akibat kecacatan yang ditimbulkan setelah diserang stroke. Jika mengalami serangan stroke segera lakukan pemeriksaan untuk menentukan apakah penyebabnya bekuan darah atau perdarahan yang tidak bisa diatasi dengan obat penghancur bekuan darah.

Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kelumpuhan dan gejala lainnya bisa dicegah atau dipulihkan jika recombinant tissue plasminogen activator (RTPA) atau streptokinase yang berfungsi menghancurkan bekuan darah diberikan dalam waktu 3 jam setelah timbulnya stroke.

Antikoagulan juga biasanya tidak diberikan kepada penderita tekanan darah tinggi dan tidak pernah diberikan kepada penderita dengan perdarahan otak karena akan menambah risiko terjadinya perdarahan ke dalam otak. Penderita stroke biasanya diberikan oksigen dan dipasang infus untuk memasukkan cairan dan zat makanan. Pada stroke in evolution diberikan antikoagulan (misalnya heparin), tetapi obat ini tidak diberikan jika telah terjadi completed stroke.

Pada completed stroke, beberapa jaringan otak telah mati. Memperbaiki aliran darah ke daerah tersebut tidak akan dapat mengembalikan fungsinya. Karena itu biasanya tidak dilakukan pembedahan. Pengangkatan sumbatan pembuluh darah yang dilakukan setelah stroke ringan atau transient ischemic attack ternyata bisa mengurangi risiko terjadinya stroke di masa yang akan datang. Sekitar 24,5% pasien mengalami stroke berulang. Untuk mengurangi pembengkakan dan tekanan di dalam otak pada penderita stroke akut, biasanya diberikan manitol atau kortikosteroid. Penderita stroke yang sangat berat mungkin memerlukan respirator (alat bantu bernapas) untuk mempertahankan pernafasan yang adekuat.

Di samping itu, perlu perhatian khusus kepada fungsi kandung kemih, saluran pencernaan dan kulit (untuk mencegah timbulnya luka di kulit karena penekanan). Stroke biasanya tidak berdiri sendiri, sehingga bila ada kelainan fisiologis yang menyertai harus diobati misalnya gagal jantung, irama jantung yang tidak teratur, tekanan darah tinggi dan infeksi paru – paru. Setelah serangan stroke, biasanya terjadi perubahan suasana hati (terutama depresi), yang bisa diatasi dengan obat – obatan atau terapi psikis.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Stroke adalah suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tiba-tiba terganggu. Dalam jaringan otak, kurangnya aliran darah menyebabkan serangkaian reaksi biokimia, yang dapat merusakkan atau mematikan sel-sel saraf di otak. Kematian jaringan otak dapat menyebabkan hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh jaringan itu. Stroke juga dapat mengancam setiap kehidupan manusia apabila tidak dapat mencegah dan menjaga pola hidup dengan baik.

3.2 Saran

Setiap orang memiliki kemungkinan besar untuk terkena penyakit stroke. Agar tidak terkena penyakit stroke, sebaiknya kita dapat mencegah penyakit stroke dengan melaksanakan beberapa tips yang telah disebutkan di atas.

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

PENYARINGAN AIR SECARA SEDERHANA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG

Air merupakan sumber bagi kehidupan. Sering kita mendengar bumi disebut sebagai planet biru, karena air menutupi 3/4 permukaan bumi. Tetapi tidak jarang pula kita mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, terutama saat musim kemarau disaat air umur mulai berubah warna atau berbau. Ironis memang, tapi itulah kenyataannya. Yang pasti kita harus selalu optimis. Sekalipun air sumur atau sumber air lainnya yang kita miliki mulai menjadi keruh, kotor ataupun berbau, selama kuantitasnya masih banyak kita masih dapat berupaya merubah/menjernihkan air keruh/kotor tersebut menjadi air bersih yang layak pakai.

Ada berbagai macam cara sederhana yang dapat kita gunakan untuk mendapatkan air bersih, dan cara yang paling mudah dan paling umum digunakan adalah dengan membuat saringan air, dan bagi kita mungkin yang paling tepat adalah membuat penjernih air atau saringan air sederhana. Perlu diperhatikan, bahwa air bersih yang dihasilkan dari proses penyaringan air secara sederhana tersebut tidak dapat menghilangkan sepenuhnya garam yang terlarut di dalam air.

Penelitian di sejumlah negara Eropa, Timur Tengah, Asia Barat dan negara lainnya saat ini tidak mensyaratkan nilai batasan minimum dan optimum terhadap tingkat kekeruhan air, jumlah kalsium maupun magnesium. Dengan kata lain tidak membatasi negara-negara anggotanya dalam mengimplementasikan sebuah persyaratan kedalam peraturan nasional mereka. Terlepas dari semua perbedaan tersebut, semua meyakini bahwa kandungan mineral atau zat padat terlarut lainnya yang berlebihan dapat membahayakan kesehatan. Dengan kata lain air yang tidak bersih sebaiknya tidak melebihi ambang batas tertentu terhadap kandungan zat-zat yang merugikan kesehatan atau bahkan dibuat seminimum mungkin.

Tingkat kekeruhan air akan sangat bervariasi sesuai sengan struktur atau kandungan mineral dalam tanah dan pada masing-masing lokasi. Diperlukan penelitian khusus untuk dapat mengetahui kandungan mineral sumber air pada suatu lokasi. Pada daerah yang memiliki sumber mata air permukaan tanah penelitian dapat dilakukan lebih cepat, dibandingkan dengan daerah tanpa sumber mata air dimana kemungkinan harus dilakukan melalui pengeboran terlebih dahulu. Penanggulangan secara cepat dapat dilakukan dengan cara melakukan penyaringan air dengan menggunakan beberapa teknik penyaringan air bersih secara alami/buatan maupun modern/tradisional.

1.2  Tujuan

Makalah ini bertujuan memberikan informasi mengenai beberapa teknik penyaringan air secara sederhana.

 

1.3  Manfaat

Agar para pembaca dapat megetahui beberapa teknik penyaringan air secara sederhana dan menerapkannya di kehidupan sehari – hari.

 

 

 

 

BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN

Kebutuhan akan air bersih di daerah pedesaan dan pinggiran kota untuk air minum, memasak , mencuci dan sebagiannya harus diperhatikan. Cara penjernihan air perlu diketahui karena semakin banyak sumber air yang tercemar limbah rumah tangga maupun limbah industri. Cara penyaringan air baik secara alami maupun kimiawi akan diuraikan dalam bab ini. Cara-cara yang disajikan dapat digunakan di desa karena bahan dan alatnya mudah didapat.

2.1  Saringan Kain Katun.

Pembuatan saringan air dengan menggunakan kain katun merupakan teknik penyaringan yang paling sederhana/mudah. Air keruh disaring dengan menggunakan kain katun yang bersih. Saringan ini dapat membersihkan air dari kotoran dan organisme kecil yang ada dalam air keruh. Air hasil saringan tergantung pada ketebalan dan kerapatan kain yang digunakan.

 

2.2 Saringan Kapas

Teknik saringan air ini dapat memberikan hasil yang lebih baik dari teknik sebelumnya. Seperti halnya penyaringan dengan kain katun, penyaringan dengan kapas juga dapat membersihkan air dari kotoran dan organisme kecil yang ada dalam air keruh. Hasil saringan juga tergantung pada ketebalan dan kerapatan kapas yang digunakan.

2.3 Aerasi

Aerasi merupakan proses penjernihan dengan cara mengisikan oksigen ke dalam air. Dengan diisikannya oksigen ke dalam air maka zat-zat seperti karbon dioksida serta hidrogen sulfida dan metana yang mempengaruhi rasa dan bau dari air dapat dikurangi atau dihilangkan. Selain itu partikel mineral yang terlarut dalam air seperti besi dan mangan akan teroksidasi dan secara cepat akan membentuk lapisan endapan yang nantinya dapat dihilangkan melalui proses sedimentasi atau filtrasi.

 

 

 

 

2.4 Saringan Pasir Lambat (SPL)

Saringan pasir lambat merupakan saringan air yang dibuat dengan menggunakan lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Air bersih didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati lapisan pasir terlebih dahulu baru kemudian melewati lapisan kerikil. Untuk keterangan lebih lanjut dapat temukan pada artikel Saringan Pasir Lambat (SPL).

 

2.5  Saringan Pasir Cepat (SPC)

Saringan pasir cepat seperti halnya saringan pasir lambat, terdiri atas lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Tetapi arah penyaringan air terbalik bila dibandingkan dengan Saringan Pasir Lambat, yakni dari bawah ke atas (up flow). Air bersih didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati lapisan kerikil terlebih dahulu baru kemudian melewati lapisan pasir. Untuk keterangan lebih lanjut dapat temukan pada artikel Saringan Pasir Cepat (SPC).

 

2.6 Gravity-Fed Filtering System

Gravity-Fed Filtering System merupakan gabungan dari Saringan Pasir Cepat(SPC) dan Saringan Pasir Lambat(SPL). Air bersih dihasilkan melalui dua tahap. Pertama-tama air disaring menggunakan Saringan Pasir Cepat(SPC). Air hasil penyaringan tersebut dan kemudian hasilnya disaring kembali menggunakan Saringan Pasir Lambat. Dengan dua kali penyaringan tersebut diharapkan kualitas air bersih yang dihasilkan tersebut dapat lebih baik. Untuk mengantisipasi debit air hasil penyaringan yang keluar dari Saringan Pasir Cepat, dapat digunakan beberapa / multi Saringan Pasir Lambat.

 

 

 

 

 

 

2.7 Saringan Arang

Saringan arang dapat dikatakan sebagai saringan pasir arang dengan tambahan satu buah lapisan arang. Lapisan arang ini sangat efektif dalam menghilangkan bau dan rasa yang ada pada air baku. Arang yang digunakan dapat berupa arang kayu atau arang batok kelapa. Untuk hasil yang lebih baik dapat digunakan arang aktif. Untuk lebih jelasnya dapat lihat bentuk saringan arang yang direkomendasikan UNICEF pada gambar di bawah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.8  Saringan air sederhana / tradisional

Saringan air sederhana/tradisional merupakan modifikasi dari saringan pasir arang dan saringan pasir lambat. Pada saringan tradisional ini selain menggunakan pasir, kerikil, batu dan arang juga ditambah satu buah lapisan injuk / ijuk yang berasal dari sabut kelapa. Untuk bahasan lebih jauh dapat dilihat pada artikel saringan air sederhana.

 

2.9 Saringan Keramik

Saringan keramik dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama sehingga dapat dipersiapkan dan digunakan untuk keadaan darurat. Air bersih didapatkan dengan jalan penyaringan melalui elemen filter keramik. Beberapa filter kramik menggunakan campuran perak yang berfungsi sebagai disinfektan dan membunuh bakteri. Ketika proses penyaringan, kotoran yang ada dalam air baku akan tertahan dan lama kelamaan akan menumpuk dan menyumbat permukaan filter. Sehingga untuk mencegah penyumbatan yang terlalu sering maka air baku yang dimasukkan jangan terlalu keruh atau kotor. Untuk perawatan saringn keramik ini dapat dilakukan dengan cara menyikat filter keramik tersebut pada air yang mengalir.

 

2.10 Saringan Cadas / Jempeng / Lumpang Batu

Saringan cadas atau jempeng ini mirip dengan saringan keramik. Air disaring dengan menggunakan pori-pori dari batu cadas. Saringan ini umum digunakan oleh masyarakat desa Kerobokan, Bali. Saringan tersebut digunakan untuk menyaring air yang berasal dari sumur gali ataupun dari saluran irigasi sawah. Seperti halnya saringan keramik, kecepatan air hasil saringan dari jempeng relatif rendah bila dibandingkan dengan SPL terlebih lagi SPC.

 

2.11 Saringan Tanah Liat.

Kendi atau belanga dari tanah liat yang dibakar terlebih dahulu dibentuk khusus pada bagian bawahnya agar air bersih dapat keluar dari pori-pori pada bagian dasarnya.

 

2.12 Air Distilasi-Uap

Distilasi–Uap merupakan salah satu cara penyaringan air. Beberapa ahli meyakini ini sebagai cara membuat air minum teraman. Selama proses pendidihan bakteri, virus dan polusi dapat dihilangkan seriring dengan meningkatnya penguapan. Banyak penelitian dilakukan terhadap tingkat keamanan terhadap kesehatan bila mengkonsumsi air dari masing-masing jenis air minum di atas. Perbedaan pun terjadi yang menyatakan tingkat aman kandungan minuman dan optimum dalam air.

 

 

BAB III
PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

Penyaringan atau filtrasi terhadap air dapat dilakukan melalui proses alami maupun buatan. Tujuannya adalah untuk memurnikannya. Meskipun tidak ada cara yang benar-benar mampu menyaring karena kuman lebih kecil dari pori-pori pada sistem filtrasi/penyaringan  terbaik sekali pun, setidaknya teknik atau beberapa cara yang di bahas dalam makalah ini dapat menjadi cara alternatif yang digunakan untuk menghasilkan air yang lebih memenuhi syarat untuk diminum maupun digunakan dalam kehidupan sehari – hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

ANALISIS SWOT PADA PROGRAM K3 DI RUMAH SAKIT DAERAH UMUM ABEPURA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Di era golbalisasi menuntut pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di setiap tempat kerja termasuk di sektor kesehatan. Untuk itu kita perlu mengembangkan dan meningkatkan K3 disektor kesehatan dalam rangka menekan serendah mungkin risiko kecelakaan dan penyakit yang timbul akibat hubungan kerja, serta meningkatkan produktivitas dan efesiensi.

Dalam pelaksanaan pekerjaan sehari – hari karyawan/pekerja di sektor kesehatan tidak terkecuali di Rumah Sakit maupun perkantoran, akan terpajan dengan resiko bahaya di tempat kerjanya. Resiko ini bervariasi mulai dari yang paling ringan sampai yang paling berat tergantung jenis pekerjaannya.

Dalam Undang – undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 23 mengenai kesehatan kerja disebutkan bahwa upaya kesehatan kerja wajib diselenggarakan pada setiap tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai resiko bahaya kesehatan yang besar bagi pekerja agar dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya, untuk memperoleh produktivitas kerja yang optimal, sejalan dengan program perlindungan tenaga kerja.

1.2  Rumusan masalah

Apa kekuatan, kelemahan, peluang dan hambatan dalam menjalankan program K3 di RSUD Abepura ( menggunakan Analisis SWOT ) ?

1.3  Tujuan

Untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan hambatan dalam menjalankan program K3 di RSUD Abepura

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Pengertian Analisis SWOT

Analisis SWOT merupakan salah satu metode untuk menggambarkan kondisi dan mengevaluasi suatu masalah, proyek atau konsep bisnis yang berdasarkan faktor internal (dalam) dan faktor eksternal (luar). Analisis SWOT merupakan kajian yaitu Strengths, Weakness, Opportunities dan Threats. Metode ini paling sering digunakan dalam metode evaluasi bisnis untuk mencari strategi yang akan dilakukan. Analisis SWOT hanya menggambarkan situasi yang terjadi bukan sebagai pemecah masalah, sehingga dapat diartikan  sebagai berikut :

  • Kekuatan ( Strength )

Kekuatan adalah berbagai kelebihan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi, yang apabila dapat dimanfaatkan akan berperan besar, tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi, tetapi juga dalam mencapai tujuan yang dimilliki oleh organisasi. Kekuatan yang dimaksud adalah kelebihan organisasi dalam mengelola kinerja di dalamnya.

  • Kelemahan ( Weakness )

Kelemahan adalah berbagai kekurangan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi yang apabila berhasil diatasi akan berperanan besar, tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi, tetapi juga dalam mencapai tujuan yang dimililiki oleh organisasi.

  • Peluang ( Opportunity )

Peluang adalah peluang yang bersifat positif yang dihadapi oleh suatu organisasi, yang apabila dapat dimanfaatkan akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi. Opportunity merupakan peluang organisasi untuk meningkatkan kualitasnya.

  • Ancaman/Hambatan ( Threat )

Hambatan adalah kendala yang bersifat negatif yang dihadapi oleh suatu organisasi, yang apabila berhasil di atasi akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi. Threat merupakan ancaman bagi organisasi baik itu dari luar maupun dari dalam.

2.2    Profil Rumah Sakit

  1. Visi dan Misi
  •  Visi

Setiap organisasi perlu memiliki visi agar mampu eksis dan unggul dalam persaingan yang semakin ketat dalam lingkungan yang berubah dengan cepat. Perumusan visi Rumah Sakit Umum Daerah Abepura mencerminkan apa yang ingin dicapai, memberikan arah dan focus strategi yang jelas, mampu menjadi perekam seluruh komponen masyarakat yang menjadi subyek dan obyek pembangunan, sehingga memiliki orientasi masa depan yang lebih baik. Dengan mengacu pada visi pemerintah yaitu Indonesia Sehat 2010, maka visi dari Rumah Sakit Umum Daerah Abepura adalah “ Menjadi Rumah Sakit Umum Daerah Kelas C di Provinsi Papua yang terbaik dan terpercaya pada tahun 2010 dalam memberikan pelayanan kesehatan dengan mengutamakan kepuasan pelanggan “

  • Misi

Untuk mewujudkan Visi Rumah Sakit Umum Daerah Abepura, maka ditetapkan misi sebagai berikut :

a.       Mewujudkan Sumber Daya Manusia yang professional sesuai bidang tugasnya

b.      Mengadakan sarana dan prasarana serta kelengkapan fasilitas sehingga pelayanan yang diberikan sesuai dengan standar pelayanan baku

c.       Mewujudkan pelayanan prima

d.      Mewujudkan lingkungan rumah sakit yang bersih dan tertib

  1. Tujuan dan Sasaran
  • Tujuan

Penetapan tujuan pada umumnya didasarkan kepada factor – factor kunci keberhasilan yang ditetapkan setelah penetapan visi dan misi. Tujuan akan mengarahkan perumusan sasaran, kebijakan, program dan kegiatan dalam rangka merealisasikan misi, menunjukkan suatu kondisi yang ingin dicapai dimasa mendatang. Untuk mengoptimalkan penetapan tujuan dan sasaran maka diperlukan penetapan factor – factor penentu keberhasilan yang diperoleh atas dasar analisis SWOT dan analisis strategi pilihan ( ASP ) dengan metode SWOT. Untuk ASP sebagaimana termuat dalam perencanaan strategi ( RENSTRA ) Rumah Sakit Umum Daerah Abepura, yaitu :

a.         Mewujudkan SDM yang handal dan professional

b.        Mengadakan sarana dan prasarana serta kelengkapan fasilitas sehingga pelayanan yang diberikan sesuai dengan standar pelayanan

c.         Melaksanakan pelayanan prima sehingga meningkatkan kepuasan pelanggan ( costumer ) atau stake holder rumah sakit

d.        Mewujudkan lingkungan rumah sakit yang bersih, indah, aman dan tertib

  • Sasaran

Sasaran menggambarkan hal – hal yang ingin dicapai melalui tindakan – tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Sasaran akan memberikan focus pada penyusunan kegiatan yang bersifat spesifik, terinci dapat diukur dan dapat dicapai.  Adapun sasaran  yang ingin dicapai dalam perencanaan strategi Rumah Sakit Umum Daerah Abepura adalah sebagai berikut :

a.         Terlaksananya pendidikan dan pelatihan

b.        Tersedianya sarana dan prasarana serta kelengkapan fasilitas sehingga pelayanan yang diberikan sesuai dengan standar pelayanan baku

c.         Terwujudnya pelayanan medis dan penunjang medis yang optimal sehingga tercapai kepuasan pelanggan

d.        Terciptanya kebersihan, keamanan, dan ketertiban dalam lingkungan rumah sakit

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1  Hasil dan Pembahasan dari Analisis SWOT

Pengamatan dan wawancara yang telah kami lakukan di RSUD Abepura menghasilkan informasi bahwa di RSUD tersebut belum diterapkan program K3 rumah sakit sehingga analisis SWOT yang kami lakukan meliputi :

  1. Kekuatan ( Strength ) Rumah Sakit Umum Daerah Abepura yaitu :
  • Letak RSUD Abepura sangat strategis dan mudah dijangkau masyarakat.
  1. Kelemahan ( Weakness ) Rumah Sakit Umum Daerah Abepura yaitu :
  • Belum adanya pelatihan ( training ) kepada petugas – petugas kesehatan yang ada sehingga program K3 belum diterapkan
  • Tidak semua petugas – petugas kesehatan yang ada memiliki pengetahuan mengenai K3
  1. Peluang ( opportunity ) Rumah Sakit Umum Daerah Abepura yaitu :
  • Tersedianya Diploma dan Sarjana Kesehatan Lingkungan yang dapat menerapkan pengetahuan mengenai K3
  1. Ancaman/Hambatan ( threat )
  • Kurangnya kesadaran pihak RSUD Abepura terhadap pentingnya peranan program K3

BAB IV

PENUTUP

 

4.1 Kesimpulan

Program K3 ( Kesehatan dan Keselamatan Kerja ) merupakan suatu program yang perlu dipantau agar setiap pekerjaan atau aktivitas di rumah sakit dapan berjalan dengan baik dan sehat tanpa menimbulkan penyakit akibat kerja. Pemantauan keselamatan dan kesehatan kerja adalah sekumpulan kegiatan yang menganalisa, menilai dan memberikan masukkan dalam upaya menjamin terciptanya kondisi produktivitas dapat ditingkatkan.

4.2 Saran

Program K3 rumah sakit sebaiknya dilakukan di setiap rumah sakit termasuk RSUD Abepura yang menjadi salah satu rumah sakit pemerintah, sehingga setiap pekerjaan yang dijalankan oleh karyawan/petugas kesehatan rumah sakit dapat berjalan dengan baik tanpa menimbulkan penyakit akibat kerja. Selain itu dengan penerapan program K3 rumah sakit diharapkan RSUD Abepura dapat meningkatkan mutu pelayanan dan produktivitas kerja.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kumpulan Judul Skripsi Mahasiswa Kesehatan Masyarakat

Pengaruh kebisingan dan masa kerja terhadap stress kerja pada bagian ….di PT….

Hubungan antara pengetahuan dan motivasi k3 karyawan dengan penerapan manajemen K3 pada PT….

Pengaruh posisi duduk terhadap kejadian nyeri pinggang bawah pada bagian….. di PT…..

Hubungan antara tingkat pendidikan, pendapatan dan perilaku masyarakat dengan kualitas lingkungan di daerah pinggir kali code Yogyakarta

Hubungan masa kerja, pemakaian APD dengan gangguan kesehatan mata pada tukang las listrik di bengkel las listrik balai KARYA PT.timah

Efektifitas penggunaan EM4 Buatan pabrik dengan EM4 buatan sendiri pada pembuatan pupuk kompos

Pengaruh shift kerja dengan stress kerja terhadap karyawan pada bagian produksi PT. newmont di Kab. Sumbawa barat NTB

Faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat partisipasi masyarakat dalam pengadaan jamban keluarga di desa Hargosari kec. Tanjung sari Kab. Gunung kidul

Gambaran factor risiko kecelakaan pada pengguna sepeda motor di wilayah poltabes kota yogyakarta tahun 2004-2008

Factor-fatkor yang berhubungan dengan keluhan gangguan saluran pernafasan pada karyawan di industri ritan di Gorongtalo

Factor-faktor yang mempengaruhi kecelakaan kerja pada karyawan bagian mesin produksi di PT. Gudang garam kediri jawa timur

Hubungan antara stres kerja, lama kerja dan kelelahan terhadap penurunan tingkat konsentrasi pada penjaga palang pintu rel kereta api wilayah Jogja

Hubungan antara masa kerja penggunaan APD dengan keluhan kesehatan pernafasan pada pekerja di perusahaan/ meabel

Hubungan antara tingkat pencahayaan dan posisi kerja dengan ketajaman penglihatan pekerja di konveksi ganesha, sleman, Yogyakarta

Hubungan antara nyeri dengan disproporsi antropometri anak sekolah dan ukuran meja kursi sekolah. studi pada siswa sd muhammadiyah Yogyakarta

Hubungan antara tingkat social ekonomi dengan karakteristik dan dominasi sampah yang dihasilkan masyarakat di….

Analisis sikap kerja dan persepsi kelelahan kerja karyawan loundry di

Hubungan ergonomi kerja terhadap keluhan nyeri punggung pada pengemudi angkutan kota jurusan wonosobo-sawangan kota Wonosobo

Pelaksanaan perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja bagi tenaga kerja bagian produksi pengolahan kayu lapis PT. sindoro sambaing Wonosobo

Hub. Kadar debu kapur tulis dengan kapasitas vital paru-paru guru sekolah dasar di kec. Sabbangparu, wajo, Sul-sel

Hub. Kadar plumbum (Pb) dalam darah dengan kejadian hipertensi pada operator stasiun pengisian bahan baker umum (SPBU) kota mataram

Perbedaan penggunaan lem kanji pada briket bioarang dengan getah pohon kambojo terhadap kualitas briket bioarang

Hubungan antara perilaku penjamah makanan dengan keberadaan mikroba dengan teknik usap pada peralatan makan di Instalazi Gizi RS…………..

Hubungan Tingkat Pengetahuan supir angkutan jurusan jogja Surabaya dengan kecelakaan lalu lintas

Hubungan pola asuh orang tua dengan status personal hygiene pada anak retardasi mental di SLB Negeri 1 Yogyakarta

Hubungan antara shif kerja dengan kelelahan pada tenaga kerja di warnet Janturan jogja

HUBUNGAN JENIS SUMBER AIR BERSIH DAN KONDISI FISIK AIR BERSIH DENGAN KEJADIAN DIARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUKMAJAYA TAHUN 2008

Sanitasi Kantin Dan Pelatihan Penjamah Makanan dengan Laik Fisik Tempat Pengolahan Makanan di Universitas “X” Tahun 2008

Hubungan Kualitas Udara Dalam Ruang (PM10) Dengan Kejadian Sick Building Syndrome Pada Pekerja di PT. BNI, Persero, Tbk, Tahun 2008

Hubungan Antara Pengetahuan dan Perilaku Penjamah Terhadap Hygiene dan Sanitasi Makanan Dengan Kualitas Bakteriologis di Kantin Kampus Universitas “X” 2008

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar